Sunday, November 7, 2010

Etnosentris Akar dari Rasisme

MENGAPA ETNOSENTRIS AKAR DARI RASISME ?
Etnosentris adalah akar dari rasisme. Karena etnosentrisme membuat kebudayaan diri sebagai patokan dalam mengukur baik buruknya, atau tinggi rendahnya dan benar atau ganjilnya kebudayaan lain dalam proporsi kemiripannya dengan kebudayaan sendiri, adanya. kesetiakawanan yang kuat dan tanpa kritik pada kelompok etnis atau bangsa sendiri disertai dengan prasangka terhadap kelompok etnis dan bangsa yang lain. Orang-orang yang berkepribadian etnosentris cenderung berasal dari kelompok masyarakat yang mempunyai banyak keterbatasan baik dalam pengetahuan, pengalaman, maupun komunikasi, sehingga sangat mudah terprofokasi. Perlu pula dipahami bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia masih berada pada berbagai keterbatasan tersebut.
Walau begitu tetap saja terdapat segi positif dan negatif dari etnosntrisme tersebut.
- SEGI POSITIF ETNOSENTRISME
1) Menjaga keutuhan suatu bangsa dan stabilitas budaya
2) Mempertinggi semangat patriotisme
3) Dapat mempertinggi kesetiaan terhadap bangsa (right or wrong is my country)
4) Dapat meneguhkan cinta tanah air
- SEGI NEGATIF ETNOSENTRISME
1) Mengurangi atau bahkan menghilangkan obyektifitas ilmu pengetahuan
2) Menghambat hubungan antar bangsa
3) Menghambat proses asimilasi dan integrasi
4) Kekuataan terpendam terjadinya pertentangan dan konflik Politik diskriminasi disebabkan karena menguatnya primordialisme. Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan perlakuan terhadap warganegara (berdasarkan warnakulit, golongan, suku, agama, dan sebagainya) Contohnya diskriminasi ras dengan politik Apartheid di Uni Afrika Selatan dan Segregasi (pemisahan suatu golongan dari golongan lainnya) orang-orang negro dsb.
CONTOH :
Konflik dan Kepentingan Sosial
Sebagai bangsa yang majemuk, Indonesia memiliki potensi untuk terjadinya perpecahan. Hal ini terjadi karena adanya sikap etnosenris dan memandang kelompok lain dengan ukuran yang sama-sekali tidak ada konsesus atasnya. Terdapat lebih dari 200 suku dan 300 bahasa. Sehingga Indonesia adalah negara yang sangat kaya ada-istiadat. Namun, kekayaan itu akan menjadi lumpuh ketika perbedaan di antaranya tidak diperkuat oleh sikap nasionalisme. Hal bisa dilhat dari banyaknya konflik antaretnis di tahun 1990-an. Seperti tragedi Sampit, antar suku Madura dan Dayak. Dimana terdapat kecemburuan ekonomi anatar Madura sebagai pendatang dan Dayak sebagai penduduk asli. Tragedi Pos, Ambon, dan Perang adat di Papua.
Sebagai contoh di Papua. Seperti yang diberitakan Kompas Juli 2002, ada 312 suku yang menghuni Papua. Suku-suku ini merupakan penjabaran dari suku-suku asli yaitu Dani, Mee, Paniai, Amungme, Kamoro, biak, Ansus, Waropen, Bauzi, Asmat, Sentani, Nafri, Meyakh, Amaru, dan Iha. Setiap suku memiliki bahasa daerah (bahasa ibu) yang berbeda. Sehingga saat ini tedapat 312 bahasa di sana.
Tempat-tempat pemukiman suku-suku di Papua terbagi secara tradisional dengan corak kehidupan sosial ekonomi dan budaya sendiri. Suku-suku yang mendiami pantai, gunung, dan hutan memiliki karakteristik kebudayaan dan kebiasaan berbeda.. Hal ini pula berimbas pada nilai, norma, ukuran, agama, dan cara hidup yang beranekaragam pula.
Keanekaragaman ini sering memicu konflik antarsuku. Misalnya yang terjadi pada tahun 2001, dimana terdapat perang adat antara suku Asmat dan Dani. Masing-masing-masing-masing suku merasa sukunyalah yang paling benar dan harus dihormati. Perang adat berlangsung bertahun-tahun. Karena sebelum adanya salah satu pihak yang kalah atau semkain kuat danmelebihi pihak yang lain, maka perang pun tidak akan pernah berakhir.
Fenomena yang sama juga banyak terjadi di kota-kota besar misalnya Yogyakarta. Sebagai kota multiultur, banyak sekali pendatang dari penjuru nusantara dengan latarbelakang kebudayaan yang berbeda Masig-masing-masing membawa kepentingan dan nilai dari daerah masing-masing. Kekhawatiran yang keudan muncul adalah adalnya sentiment primordial dan etnosentris. Misalnya mahasiswayang berasal dari Medan (suku Batak) akan selalu berkras pada pendirian dan sikap yang menyebut dirinya sebagai orang yang tegas, berpendirian, dan kasar (kasar dalam artian tegas). Sedangkan Melayu dikatakan pemalu, relijius, dan merasa lebih bisa diterima di mana pun berada. Sedangkan Jawa, akibat pengaruh orde baru, menganggap dirinya paling maju dari daerah lain. Sehingga ketika berhubungan dengan orang luar Jawa, maka stigma yang terbentuk adalah stigma negatif seperti malas, kasar, dan pemberontak.

Akulturasi Budaya

Akulturasi merupakan sebuah istilah dalam ilmu Sosiologi yang berarti proses pengambil alihan unsur-unsur (sifat) kebudayaan lain oleh sebuah kelompok atau individu. Adalah suatu hal yang menarik ketika melihat dan mengamati proses akulturasi tersebut sehingga nantinya secara evolusi menjadi Asimilasi (meleburnya dua kebudayaan atau lebih, sehingga menjadi satu kebudayaan). Menariknya dalam melihat dan mengamati proses akulturasi dikarenakan adanya Deviasi Sosiopatik seperti mental disorder yang menyertainya. Hal tersebut dirasa sangat didukung faktor kebutuhan, motivasi dan lingkungan yang menyebabkan seseorang bertingkah laku.
 
Hal seperti diatas dumpamakan dengan orang Indonesia (Timur, umumnya berasal dari kelas bawah) yang sedang beralkuturasi dengan jalan memakai sepeda motor buatan bangsa Jepang. Jadi disini, Akulturasi ditandai dengan seorang individu yang mengambil alih unsur budaya Jepang seperti mesin kendaraan bermotor dengan merk Yamaha. Saat orang Timur tersebut (ras Malayan) mulai beradaptasi dengan kendaraan bermotor Yamaha buatan ‘Urang Jopang’ tersebut maka secara fisik ‘Reference Group’nya tentu orang-orang yang menjadi bintang iklan dari produk kendaraan bermotor Yamaha tersebut yang sering ditayangkan di media-media komunikasi seperti koran, majalah dan Televisi. Secara kejiwaan diasumsikan dia akan mempunyai pemikiran bahwa statusnya menjadi lebih tinggi ketika memakai kendaraan bermotor tersebut dan merasa sudah menjadi orang modern serta secara sosial akan mencari individu lain yang sama dengannya, dalam artian sejenis dengan motor yang dimilikinya. Jadi disini, keinginan untuk membentuk sebuah ‘Gemeinschaft’ dengan patokan motor Yamaha akan timbul. Secara kekutan egonya, id nya yang sudah berkata bahwa dirinya sudah berstatus orang modern dan kelihatan keren sehingga dia cenderung membuat gap dengan orang lain (anti sosial) dan super egonya mungkin menyuruhnya untuk berperilaku meninggalkan ciri-ciri ketimuran (sebagaimana dia orang Indonesia) dan cenderung mengindentifikasikan dirinya sebagai seorang Jepang sehingga egonya akan cenderung berperilaku seperti orang Jepang yang umumnya mempunyai pengetahuan tentang moral orang Indonesia sebagai orang yang ‘lemah’ karena tidak bertanggung jawab, kurang memiliki loyalitas kepada yang memberi tugas dan tidak disiplin.

Cara adaptasi diatas bila tidak dengan konformitas dengan daerah dan kebudayaan Indonesia sendiri akan menimbulkan konflik, anomi maupun mental disorder tersendiri yang bila tiada nilai keimanan maka akan cendrung menjadi Deviant dengan segala tindakan Deviasinya. Kalaupun dipaksakan dalam hal adaptasinya sehingga menjadi inovasi maka akan menimbulkan mental disorder yang bila dihubungkan dengan mengendarai kendaraan bermotor akan terjadi kecelakaan seperti tabrakan (karena faktor kebutuhan, motivasi dan lingkungan ataupun karena keinginan bunuh diri yang disebabkan sakit jiwa, ras dan imitasi a la Emile Durkheim) yang banyak dijumpai kasusnya di daerah-daerah Indonesia seiring dengan rakyat Indonesia yang sedang berakuturasi dengan kendaraan bermotor buatan luar negeri.

Contoh Akulturasi Budaya :
Kelompok Manusia dengan Kebudayaan A > Kebudayaan B > “B” diterima “A” belum hilang
model of intercultural (Samovar)
Image Hosted by ImageShack.us
C Terkontambinasi antara percampuran SOLO dan ARAB, sehingga ia berakulturasi.
  • Kebudayaan “B” : bermanfaat, mudah dipakai, sesuai lingkungan
  • akulturasi terjadi pada generasi muda
  • proses akulturasi : proses adaptasi, kalo tidak terjadi maka akan mengalami culture shock!
Riofr. Powered by Blogger.